{"id":433,"date":"2025-03-03T07:25:46","date_gmt":"2025-03-03T00:25:46","guid":{"rendered":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/?p=433"},"modified":"2025-03-03T07:25:48","modified_gmt":"2025-03-03T00:25:48","slug":"cahaya-senja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/","title":{"rendered":"Cahaya Senja"},"content":{"rendered":"\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Ku pandangi atap bumi kemerah-merahan dari mentari yang sedang turun perlahan di balik cakrawala. Apa yang istimewa dari fana merah jambu itu? sampai-sampai penyair dari ujung demi ujung acap kali memujanya, menyanjungnya, bait demi bait seraya berkata, seolah tak ada yang paling indah selainnya. Hembusan angin senja meniupku, kantuk dibuatnya.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Debur ombak pantai di ujung timur pulau Jawa itu datang dengan kilat, seolah tak terima oleh gumamanku. \u201cBukalah hati hitamu tentang senja itu, agar kau merasakan keindahan lukisan Tuhan satu ini!\u201d Dirinya seolah terpanah menatap pertujukan pembuka malam di depannya. Laki-laki ini sudah seperempat hari bersamaku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYa.\u201d kataku tak acuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Angin terus berhembus, dan seperti angin itu juga, semuanya tiada berkesan. Hatiku berteriak, meneriakkan berjuta kenangan yang datang mengharu biru. Sesekali kuhembuskan nafas yang menyesakkan dada, kucoba membuang segala kesenduan, namun justru aku malah tenggelam dibuatnya, hingga angin meniup syahdu seolah nyanyian iba besertanya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dRasanya baru kemarin kita berlambai ria di sini bukan?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Seketika Sidin tersedak, terdiam menolehku.<\/p>\n\n\n\n<p>Terdengar riuh para nelayan yang sedang kompak mendorong perahunya menjauhi tepi. Ayahku tampak bersiap dengan segala alat dan umpan untuk mengelabuhi ikan ikan disana. \u201dNak, Ayah hanya dua hari, kiranya rabu pagi Ayah sudah kembali, ambilah sendiri makan di dapur, sepertinya itu bertahan sampai besok, kau jangan lupa belajar, rapikan tumpukan bajumu itu, dan sembahyanglah!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBaik Ayah.\u201d Jawabku sembari menyantap oseng cakalang yang katanya bertahan sampai besok itu.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Aku dan Sidin berlari mengekor Ayah kami, menatap dengan riang keberangkatan mereka. Silau sorot cahaya senja membersamai, nyiur yang berderet di tepi pantai itu melambai senada dengan lambaianku dan Sidin pada Ayah kami.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBawakan aku ikan buntal ya!\u201d teriaku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dSiap tuan muda.\u201d jawab Ayah dengan teriakan yang terdengar lirih karena riuh angin telah membawanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Hari mulai larut, pasir pantai tak kalah empuk dari kasur penginapan bintang lima. Aku dan Sidin masih terpaku, menatap langit dengan segala aksesorisnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dAku malam ini menginap di rumahmu ya.\u201d pinta Sidin.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dTidak tidak, aku tak sanggup mendengar celotehan Ibumu!\u201d sahutku.<\/p>\n\n\n\n<p>Betapa tidak, membayangkan raut wajah Bulek Sutik saja aku tak berani, ocehannya minggu lalu masih membekas rasanya, seperti komentator televisi yang didapati sedang mendeskripsikan gol pada pertandingan sepak bola. Mulutku belum mengatup, terdengar suara keras seperti komandan pleton menyiapkan barisan itu menusuk di telingaku dan Sidin. \u201dSidin!\u201d ini bencana yang paling dahsyat dari sekian bencana. Terlihat dari kejauhan Bulek Sutik dengan sorotan mata membesar, berkacak pinggang, rotan tipis panjang di tangan kirinya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSidin! Apa kau sudah lupa jalan pulang? Apa kau rindu dengan rotan ini? Pulang! Kau juga!\u201d terik Bulek Sutik dengan penuh amarah.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Matahari pagi menyapaku dengan hangat, yang ku tunggu-tunggu sudah terlihat, ya Ayahku. Kudapati dia terengah-engah membawa ember hitam berukuran tanggung itu kearahku, \u201cNak, lihat apa yang kubawa untukmu!\u201d&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBanyak sekali ikan buntal ini, Yah.\u201d Aku melompat kegirangan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dSesuai pesanan bukan? Besok akan Ayah bawakan lagi, kau mau apa, ikan buntal, ikan pari, cumi-cumi, bintang laut, kuda laut, atau semuanya?\u201d imbuh Ayah.<\/p>\n\n\n\n<p>Persis sebelumnya, rutinitas ini telah menjadi bagian dari hidupku, dan terus begitu, mungkin selamanya akan seperti itu. Saat senja. Seperti biasa, Aku dan Sidin mengantar&nbsp; namun kali ini mereka membawa perahu yang berbeda. \u201dNak, sepertinya Ayah hanya sehari, tapi tidak bersama Paklek Mad, agar cepat dapat lebih banyak, mngkin ayah akan kembali besok di waktu seperti ini, sudah kusiapkan makanmu di dapur, jangan lupa belajar dan sembahyang!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sepertinya sudah menjadi ritual rutin, kami menatap dengan riang keberangkatan mereka. Cahaya senja lagi lagi membersamai, nyiur yang berderet tepi pantai ikut serta melambai, senada dengan lambaianku dan Sidin.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dBawakan aku cumi-cumi yang besar ya!\u201d teriaku.<\/p>\n\n\n\n<p>Ayah tak membalasnya, mungkin suaraku terbawa oleh gemuruh angin, dari kejauhan Ayahku dan perahunya nampak seperti siluet hitam, di antara semburat senja di ujung cakrawala. Perlahan siluet itu berlayar menjauh, semakin jauh, lalu menghilang seolah senja telah melahapnya. Tidak berhenti sampai disitu, aku terus menunggu dan terus menunggu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dAyo segera pulang, sebelum ibuku memakiku lagi\u201d Kata Sidin sembari menepuk pundaku.<\/p>\n\n\n\n<p>Keesokan harinya, mentari tampak menyorot. Sidin memicingkan matanya, menyeka peluh yang mengucur deras dari pelipisnya. Wah, Paklek Mad sudah kembali lebih cepat dengan bangga berlimpah ruah tangkapannya, pasti sebentar lagi Ayahku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dJago sekali kau Paklek Mad, tiga keranjang penuh,\u201d kataku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dAyahmu lebih jago, tunggulah, sebentar lagi dia akan datang dengan berkeranjang-keranjang.\u201d Sahut Paklek Mad.<\/p>\n\n\n\n<p>Tentu saja, penduduk pesisir mengakuinya, Ayahku adalah nelayan handal. Berbangga aku bercerita tentangnya. Sudah tak sabar, aku berlari-lari dari nyiur satu ke nyiur yang lain, tersenyum riang&nbsp; kegirangan, ku ulangi adegan itu berkali-kali, hingga nyiur pun dirasa muak. \u201cAyahku yang gagah itu pasti membawa cumi yang sangat besar,\u201d harapku.<\/p>\n\n\n\n<p>Dua jam, tiga jam, empat jam dan seterusnya. Hari semakin sore, teringat kembali ucapan Ayahku saat berpamitan, dia akan datang pada waktu seperti senja kemarin. Aku menunggu, tak beranjak sedikit pun dari tempatku berada. Namun, saat senja telah menyapa, Ayahku tak kunjung datang, terasa lelah, terasa lapar. \u201dSebaiknya aku pulang saja, mungkin Ayah akan datang di senja besok,\u201d harapku dengan penuh kegundahan di dalam hati.<\/p>\n\n\n\n<p>Setiap hari, di tempat yang sama, senja yang sama. \u201dKu lihat kau sangat rajin menyambangi tempat ini,\u201d kata Mbah Tam, penjaga surau tepi pantai. Sepertinya beliau selalu memperhatikanku setiap hari, semua memanggilnya Mbah Tam, kali ini dia menegurku. \u201dAku sedang menunggu\u201d kataku. Tak berselang lama Mbah Tam meninggalkanku, kembali ke suraunya. Sesekali terlihat perahu datang, rasa hati sangat berbinar, namun ternyata bukan yang kutunggu, selalu pula Sidin ikut bersamaku, \u201dKau tak lelah? Tunggu saja Ayahmu di rumah, pasti dia kembali, pulanglah! Ini sudah malam,\u201d ajak Sidin. Sungguh, Sidin tak mengerti perasaanku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dApa kau lelah? Kalau begitu kau saja yang pulang, lagi pula aku tak menyuruhmu untuk menemaniku!\u201d kataku, tapi aku cepat merasa menyesal telah mengatakannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sidin tak berucap apapun, Ia bergegas pergi meninggalkanku, mungkin dengan kekecewaan terhadapku, meski begitu aku tak sedikit pun menghiraukannya, dengan kemudian dia tak lagi terlihat batang hidungnya.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Keesokan harinya, Aku kembali ke pantai, tempat yang sama dan waktu yang sama pula, membawa selembar kertas ujianku tadi pagi dengan coretan nilai sempurna di atasnya. Dari kejauhan aku berlari, mengangkat kertas itu ke arah langit \u201dAyah, lihatlah! Katamu yang tiap hari menyuruhku belajar. Apa kau masih ingin berlama-lama di sana?\u201d teriaku di tempat yang sama, senja yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak kenal lelah aku menunggu dengan harapan penuh membayangiku bahwa Ayah akan kembali bersama wajah sumringahnya dan melambaikan tangan dari kejauhan. Namun, kali ini aku benar benar lelah, sudah rabu kelima bayang bayang&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dTenanglah, Ayahmu akan kembali,\u201d yang setiap hari terucap dari mulut semua orang ketika bertemu denganku, dan berkali-kali aku menimpali.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dAku tak akan pernah tenang jika Ayahku belum saja kembali!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Terlihat Bulek Sutik menghampiriku dengan rantang nasi masakannya untuku setiap hari. Heran, akhir-akhir ini dia tak pemarah. Segera aku membawanya ke pantai, menikmatinya sembari menunggu Ayahku datang. \u201cAyah, lihatlah! oseng cakalang Bulek Nah ini sangat asin, tidak seperti punyamu, mungkin jika kau menyantapnya, akan kau banting rantang ini tentu, ha ha ha\u201d teriaku. Sedih itu tak lagi kukenal, seperti menyatu hingga tak terasa. Tiba-tiba, Mbah Tam sudah berdiri di sampingku, bersarung usang yang terlihat sudah tak layak di pakainya, \u201cSetiap aku melihat senja, aku juga melihatmu. Sungguh kau sudah menjadi bagian darinya\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dTidak, aku di sini hanya menunggu,\u201d jawabku terhenti, dia tak menghiraukan perkataanku, selalu begitu, langsung saja pergi, \u2019aneh\u2019 pikirku sekali lagi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Sepulang sekolah, aku hanya tertunduk berjalan menuju rumah. Sidin menggandeng pundaku, \u201dKau sudah tak marah padaku Din?\u201d tanyaku, \u201dAku tak pernah marah padamu\u201d jawabnya, kami kembali berbincang, tertawa sepanjang jalan. Langkahku terhenti, menengok arah pantai, terlihat ramai, ramai sekali. Banyak orang berseragam, berpelampung, banyak pula perahu karet yang bersiap dan Paklek Mad. Aku dan Sidin menghampirinya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBerdoalah! Semoga Ayahmu masih hidup, mereka akan mencarinya\u201d Paklek Mad mengusap halus kepalaku. pikirku selalu berkata \u2019Ayahku tak mati!\u2019<\/p>\n\n\n\n<p>Dua hari penuh, orang orang ramai berseragam siang itu belum saja kembali, sesaat kemudian terlihat mereka mendayung dari kejauhan \u201dItu mereka! Pasti Ayahku juga\u201d aku tersenyum kegirangan. Sidin dan Paklek Mad di sampingku sontak berdiri. Aku berlari menghampiri mereka, menghampiri semua perahu yang datang, \u201dDmana Ayahku?\u201d tanyaku.&nbsp; Laki-laki yang masih memakai pelampung itu tiba-tiba berlutut di hadapanku, mencengkeram kedua pundaku \u201dMaafkan saya.\u201d kata-kata mula penyebab bertebarannya siaran siaran, koran koran, bisikan bisikan riuh isinya tentu, Ayahku. Masih tak menyangka ini terjadi, aku tak berdaya, tubuhku gemetar, tubuh Sidin yang ringkih itu memeluku. Hatiku berkecamuk, air mata mengucur tanpa henti.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dHei, apa kau lupa? kau mengatakan akan kembali besok, jika besok kau tak kunjung datang, maka untuku setiap hari adalah besok, sampai kau datang, Ayah!\u201d teriaku kepada debaran ombak yang sunyi tanpa tepi.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku menengok ke belakang, kudapati seluruh keluarga para nelayan memenuhi pantai, mereka melihatku iba. Senja telah datang, akupun segera menghardiknya \u201dApa ini yang di serukan indah? kembalikan Ayahku! apa kau benar benar telah melahapnya ?\u201d teriaku dengan penuh kehampaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Hilang, aku tak melihat lagi sebuah keindahannya, dia benar-benar melahap siluet hitam di balik cakrawala itu. Melahap ayahku, perahunya, dan melahap semua keriangan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dSudahlah, tujuh tahun lalu sudah sangat lampau, Rus.\u201d Sidin menepuk punggungku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dAku tau itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dKau sudah berhasil bangkit, jangan berlarut membencinya, lihatlah! Datangnya hanya sesaat, tetapi dia berjanji akan selalu datang dengan indah.\u201d Ucap Sidin, yang kian iba melihatku berlarut larut dalam penantian panjang.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dJika mendung?\u201d tanyaku<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dAh kau ini, aku tak membahas mendung!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum beranjak pergi meninggalkan Sidin, Kembali kukatakan padanya \u201cBiasa-biasa saja, Din.\u201d dia hanya mendengus.<\/p>\n\n\n\n<p>Surau kecil dari susunan kayu ujung pantai dengan segala keelokannya telah berkumandang, aku pun menghampiri panggilan mesra Tuhanku itu, yang tanpa berjanji pun Dia benar-benar selalu datang dan kembali. Langit bergradasi menunjukkan pesonanya, memikat para mata yang sedang memandangnya, bertaburan dengan suara debur ombak. Para penulis pun terkesima, dengan segera mengabadikannya dalam secarik karya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dSudah lama aku tak melihatmu, kau sangat tampan. Sempurna sudah pemandanganku sekarang, ada senja dan kau\u201d. Terdengar suara yang sama, yang menegurku sebentar dan berlalu. Namun suara itu sudah ringkih, sedikit tidak jelas karena giginya hanya tinggal beberapa termakan usia,\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Lagi-lagi, kali ini dengan sopan, sorot cahaya senja itu menerpaku, menerpa Sidin dan menerpa Mbah Kam juga suraunya, begitu elok nan menawan, hingga kami tak mampu melukiskan, apalagi menulisnya dalam bait syahdu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Ku pandangi atap bumi kemerah-merahan dari mentari yang sedang turun perlahan di balik cakrawala. Apa yang istimewa dari fana merah jambu itu? sampai-sampai penyair dari ujung demi ujung acap kali memujanya, menyanjungnya, bait demi bait seraya berkata, seolah tak ada yang paling indah selainnya. Hembusan angin senja meniupku, kantuk dibuatnya. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Debur ombak pantai di ujung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":434,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[],"class_list":["post-433","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.6 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Cahaya Senja - Berita IPPNU Jatim<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cahaya Senja - Berita IPPNU Jatim\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Ku pandangi atap bumi kemerah-merahan dari mentari yang sedang turun perlahan di balik cakrawala. Apa yang istimewa dari fana merah jambu itu? sampai-sampai penyair dari ujung demi ujung acap kali memujanya, menyanjungnya, bait demi bait seraya berkata, seolah tak ada yang paling indah selainnya. Hembusan angin senja meniupku, kantuk dibuatnya. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Debur ombak pantai di ujung [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita IPPNU Jatim\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-03-03T00:25:46+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-03-03T00:25:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/shaima-hatem-Xz95t9ILW1A-unsplash-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"PW IPPNU Jawa Timur\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"PW IPPNU Jawa Timur\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"9 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/\"},\"author\":{\"name\":\"PW IPPNU Jawa Timur\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/person\/1e67ec8fbd3cae164dc5686696e7864a\"},\"headline\":\"Cahaya Senja\",\"datePublished\":\"2025-03-03T00:25:46+00:00\",\"dateModified\":\"2025-03-03T00:25:48+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/\"},\"wordCount\":1731,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/shaima-hatem-Xz95t9ILW1A-unsplash-scaled.jpg\",\"articleSection\":[\"Cerpen\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/\",\"url\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/\",\"name\":\"Cahaya Senja - Berita IPPNU Jatim\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/shaima-hatem-Xz95t9ILW1A-unsplash-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2025-03-03T00:25:46+00:00\",\"dateModified\":\"2025-03-03T00:25:48+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/shaima-hatem-Xz95t9ILW1A-unsplash-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/shaima-hatem-Xz95t9ILW1A-unsplash-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1920,\"caption\":\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/a-sunset-over-a-city-Xz95t9ILW1A?utm_content=creditShareLink&utm_medium=referral&utm_source=unsplash\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Cahaya Senja\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/\",\"name\":\"Berita IPPNU Jatim\",\"description\":\"Berita Informasi dan Artikel Tentang PW IPPNU Jawa Timur\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#organization\"},\"alternateName\":\"Berita IPPNU Jatim\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#organization\",\"name\":\"Berita IPPNU Jatim\",\"alternateName\":\"Berita IPPNU Jatim\",\"url\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/logo-2.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/logo-2.png\",\"width\":276,\"height\":70,\"caption\":\"Berita IPPNU Jatim\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/person\/1e67ec8fbd3cae164dc5686696e7864a\",\"name\":\"PW IPPNU Jawa Timur\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/cropped-favicon.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/cropped-favicon.png\",\"caption\":\"PW IPPNU Jawa Timur\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Cahaya Senja - Berita IPPNU Jatim","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Cahaya Senja - Berita IPPNU Jatim","og_description":"&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Ku pandangi atap bumi kemerah-merahan dari mentari yang sedang turun perlahan di balik cakrawala. Apa yang istimewa dari fana merah jambu itu? sampai-sampai penyair dari ujung demi ujung acap kali memujanya, menyanjungnya, bait demi bait seraya berkata, seolah tak ada yang paling indah selainnya. Hembusan angin senja meniupku, kantuk dibuatnya. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Debur ombak pantai di ujung [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/","og_site_name":"Berita IPPNU Jatim","article_published_time":"2025-03-03T00:25:46+00:00","article_modified_time":"2025-03-03T00:25:48+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1920,"url":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/shaima-hatem-Xz95t9ILW1A-unsplash-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"PW IPPNU Jawa Timur","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"PW IPPNU Jawa Timur","Estimasi waktu membaca":"9 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/"},"author":{"name":"PW IPPNU Jawa Timur","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/person\/1e67ec8fbd3cae164dc5686696e7864a"},"headline":"Cahaya Senja","datePublished":"2025-03-03T00:25:46+00:00","dateModified":"2025-03-03T00:25:48+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/"},"wordCount":1731,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/shaima-hatem-Xz95t9ILW1A-unsplash-scaled.jpg","articleSection":["Cerpen"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/","url":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/","name":"Cahaya Senja - Berita IPPNU Jatim","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/shaima-hatem-Xz95t9ILW1A-unsplash-scaled.jpg","datePublished":"2025-03-03T00:25:46+00:00","dateModified":"2025-03-03T00:25:48+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/#primaryimage","url":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/shaima-hatem-Xz95t9ILW1A-unsplash-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/shaima-hatem-Xz95t9ILW1A-unsplash-scaled.jpg","width":2560,"height":1920,"caption":"https:\/\/unsplash.com\/photos\/a-sunset-over-a-city-Xz95t9ILW1A?utm_content=creditShareLink&utm_medium=referral&utm_source=unsplash"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/cahaya-senja\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Cahaya Senja"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#website","url":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/","name":"Berita IPPNU Jatim","description":"Berita Informasi dan Artikel Tentang PW IPPNU Jawa Timur","publisher":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#organization"},"alternateName":"Berita IPPNU Jatim","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#organization","name":"Berita IPPNU Jatim","alternateName":"Berita IPPNU Jatim","url":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/logo-2.png","contentUrl":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/logo-2.png","width":276,"height":70,"caption":"Berita IPPNU Jatim"},"image":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/person\/1e67ec8fbd3cae164dc5686696e7864a","name":"PW IPPNU Jawa Timur","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/cropped-favicon.png","contentUrl":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/cropped-favicon.png","caption":"PW IPPNU Jawa Timur"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/433","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=433"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/433\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":435,"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/433\/revisions\/435"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media\/434"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=433"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=433"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=433"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}