{"id":341,"date":"2024-09-08T12:30:44","date_gmt":"2024-09-08T05:30:44","guid":{"rendered":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/?p=341"},"modified":"2025-06-16T12:13:50","modified_gmt":"2025-06-16T05:13:50","slug":"dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/","title":{"rendered":"DEKADENSI NU SEBAGAI ORGANISASI CIVIL SOCIETY DALAM BERDEMOKRASI"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Latif Prayogo<sup>1<\/sup>,Rida Nanda Kirana<sup>2<\/sup><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Universitas Brawijaya<sup>1<\/sup> Universitas Negeri Malang<sup>2<\/sup><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Email : <\/em><a href=\"mailto:latif_prayogo@student.ub.ac.id\"><em>latif_prayogo@student.ub.ac.id<\/em><\/a><em>&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Abstrak<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Demokrasi tidak dapat berjalan tanpa adanya kekuatan pendukung serta kekuatan penyeimbang sebagai kontrol terhadap praktik pemerintahan. Adanya partai politik pendukung atau oposisi dalam pemerintahan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi Masyarakat, dan kekuatan masyarakat yang terstruktur yang memiliki pengaruh dalam pengambilan serta kontrol kebijakan dalam sebuah pemerintahan dibutuhkan untuk keberlangsungan demokrasi. Nahdlatul Ulama (NU) merupakan contoh konkrit dari kekuatan masyarakat dalam lingkup <em>civil society, <\/em>organisasi yang pernah menjadi partai politik serta memiliki kontribusi yang signifikan dalam proses demokrasi mulai era pra-kemerdekaan hingga saat ini. Meskipun termasuk ke dalam organisasi yang berbasis nilai-nilai agama islam, NU juga dikenal sebagai organisasi kemasyarakatan yang menjunjung nilai nasionalisme, moderat, pluralisme, dan toleransi yang tinggi. Namun dalam praktiknya, terkadang terjadi hal-hal yang justru bertentangan dengan nilai yang diusung oleh organisasi tersebut. Seperti pembubaran pengajian Syafiq Riza Basalamah yang terjadi pada tanggal 22 Februari 2024 di Surabaya. Tentunya hal tersebut merupakan sebuah dekadensi dari NU sebagai bagian dari <em>civil society <\/em>dalam berdemokrasi dan berdemokratisasi. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode deskriptif dengan berdasarkan studi literatur untuk menjelaskan dinamika organisasi masyarakat NU sebagai salah satu bagian dari <em>civil society. <\/em>Dalam tulisan ini, penulis akan berfokus terhadap dekadensi yang terjadi pada NU sebagai organisasi <em>civil society <\/em>dalam berdemokrasi. Diharapkan dengan adanya tulisan ini dapat menjadi kritik untuk mengevaluasi organisasi NU agar dapat menjadi lebih baik lagi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kata kunci: Dekadensi NU, <\/strong><strong><em>Civil society,<\/em><\/strong><strong> Demokrasi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>PENDAHULUAN<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara etimologis, demokrasi berasal dari bahasa Yunani kuno yang terdiri dari kata <em>demos<\/em> dan <em>kratos<\/em><strong>. <\/strong><em>Demos<\/em> memiliki arti rakyat, sedangkan <em>kratos<\/em> berarti pemerintahan. Maka apabila digabungkan, secara harfiah memiliki arti pemerintahan yang mutlak oleh rakyat. Sedangkan secara filosofis, demokrasi memiliki makna sebuah ideologi atau gagasan yang mengutamakan persamaan antara hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara. Namun seringkali dalam praktiknya, konsep tersebut tidak berjalan dengan semestinya. Meskipun terdapat gap antara konsep awal dengan kenyataan dalam implementasinya sebagai sebuah sistem politik, demokrasi tetap menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) yang didalamnya terdapat nilai persamaan, kebebasan, penghormatan terhadap hak-hak sipil, serta dihargainya pluralitas dan kompetisi yang adil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Demokrasi tidak dapat berjalan tanpa adanya kekuatan pendukung serta kekuatan penyeimbang sebagai kontrol terhadap praktik pemerintahan. Adanya partai politik pendukung atau oposisi dalam pemerintahan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi Masyarakat, dan kekuatan masyarakat yang terstruktur yang memiliki pengaruh dalam pengambilan serta kontrol kebijakan dalam sebuah pemerintahan dibutuhkan untuk keberlangsungan demokrasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kekuatan masyarakat sebagai penyeimbang dalam demokrasi dikuatkan dengan konsep <em>civil society<\/em> (masyarakat madani) yang dianggap efektif sebagai bagian terpenting dari kekuatan demokrasi. <em>Civil society<\/em> merupakan masyarakat yang memiliki nilai peradaban yang dibedakan dengan masyarakat yang tidak beradab. <em>Civil society<\/em> yang berkembang ditengah masyarakat sering kali membawa ideologi, paham, atau corak-corak tertentu dalam praktiknya. Salah satu paham yang masif berkembang dalam <em>civil society<\/em> di Indonesia adalah paham islam, paham tersebut menjadi dasar bagi masyarakat dalam mendirikan perkumpulan ataupun sebuah organisasi. Beberapa contoh dari organisasi masyarakat yang bernafaskan islam yang termasuk bagian dari <em>civil society <\/em>seperti NU, Muhammadiyah, HMI, PMII, IPNU, IMM, dan sebagainya. Organisasi-organisasi masyarakat tersebut memiliki sejarah serta kontribusi yang cukup penting dalam proses demokratisasi di Indonesia, baik sejak pra-kemerdekaan hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu organisasi masyarakat yang akan diangkat dalam tulisan ini adalah Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki kontribusi sejak pra-kemerdekaan hingga saat ini dalam hal demokratisasi. NU juga merupakan organisasi masyarakat terbesar di Indonesia yang memiliki basis massa yang kuat serta memiliki pengaruh yang signifikan. Namun, dewasa ini organisasi tersebut mengalami kemunduran. Seperti intoleran terhadap kelompok yang tidak sepaham dengannya (Salafi Wahabi), melalui Banser membubarkan beberapa pengajian, hingga konflik dengan organisasi masyarakat lainnya menjadi sorotan atas dekadensi NU sebagai salah satu organisasi masyarakat yang juga menjunjung prinsip pluralisme dan modernisasi yang merupakan bagian dari nilai-nilai dalam demokratisasi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode deskriptif dengan berdasarkan studi literatur untuk menjelaskan dinamika organisasi masyarakat NU sebagai salah satu bagian dari <em>civil society. <\/em>Dalam tulisan ini, penulis akan berfokus terhadap dekadensi yang terjadi pada NU sebagai organisasi <em>civil society <\/em>dalam berdemokrasi. Diharapkan dengan adanya tulisan ini dapat menjadi kritik untuk mengevaluasi organisasi NU agar dapat menjadi lebih baik lagi.<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"2\" class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>PEMBAHASAN\u00a0<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika berbicara tentang indonesia, agama mayoritas yang dianut oleh masyarakatnya adalah islam. Hal tersebut berarti masyarakat muslim di Indonesia memiliki peranan yang cukup penting dalam eksistensi <em>civil society<\/em> sebagai bagian dari kekuatan sosial politik. Potensi muslim di Indonesia, baik secara kualitas maupun kuantitas merupakan pondasi dasar dalam penguatan <em>civil society.&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nahdlatul Ulama (NU) merupakan contoh konkrit dari kekuatan masyarakat dalam lingkup <em>civil society,<\/em> sehingga kehadirannya patut untuk diperhatikan dan diperhitungkan. Nahdlatul Ulama (NU) merupakan sebuah organisasi yang pernah menjadi partai politik serta memiliki kontribusi yang signifikan dalam proses demokrasi mulai era pra-kemerdekaan hingga saat ini. NU didirikan pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926) oleh K.H. Hasyim Asy\u2019ari di Kota Surabaya. Tujuan awal didirikannya organisasi ini adalah untuk memberlakukan ajaran islam yang menganut paham <em>ahlussunnah wal-jama\u2019ah<\/em> bermazhab Asy\u2019ariyah serta memiliki tujuan untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang berkeadilan demi kemaslahatan, kesejahteraan umat, dan terciptanya rahmat bagi alam semesta. Pada tahun 2021, jumlah anggota dari organisasi ini berjumlah 95 juta orang. Organisasi ini juga merupakan bagian dari <em>civil society <\/em>yang<em> <\/em>keberadaanya dapat memberikan pengaruh dalam pengambilan serta kontrol kebijakan dalam sebuah pemerintahan untuk keberlangsungan demokrasi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Hendro Prasetyo, setidaknya ada dua hal penting yang menjadi dasar sebagai modal sosial NU untuk menjadi salah satu bagian dari <em>civil society.<\/em> Dua modal sosial tersebut adalah:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertama, kembalinya NU ke Khittah 1926 pada Muktamar Situbondo tahun 1984, yang mengembalikan komitmen awal didirikannya NU sebagai organisasi sosial yang berbasis keagamaan dan bergerak dalam bidang-bidang sosial, agama, pendidikan, yang berorientasi untuk kesejahteraan umat. Hal tersebut merupakan wujud dari re-orientasi sosial politik NU setelah sekian lama terlibat aktif dalam politik praktis sebagai partai politik pada era 1950-an hingga era Orde Baru dimana NU masuk ke dalam fusi PPP pada saat itu. Secara signifikan NU merubah haluan gerakan dari politik praktis ke arah gerakan sosial budaya yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedua, munculnya generasi-generasi terpelajar muda NU yang disebut sebagai generasi kedua yang tidak hanya berkonsentrasi dalam ilmu agama dan terpusat di pesantren-pesantren saja, akan tetapi mereka juga mulai terintegrasi dengan dunia pendidikan modern dan mampu memunculkan ide atau gagasan tentang isu masyarakat sipil pada tahun 1990-an. Generasi ini merupakan generasi yang akrab dengan gagasan atau teori-teori baru dalam ilmu sosial dan politik yang kemudian mereka implementasikan secara aktif ke dalam organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan baik yang dinaungi langsung oleh NU maupun LSM lain yang memiliki tujuan serupa yaitu mengembangkan wacana masyarakat sipil serta menjadikannya alat sebagai penyeimbang pemerintah.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keputusan serta dua hal tersebut secara tidak langsung memberikan keuntungan yang strategis bagi NU, yang pertama adalah mengembalikan fungsi ulama NU dalam kepemimpinan organisasi, selanjutnya adalah melepaskan NU dari keterkaitannya dengan partai politik atau organisasi politik manapun yang akan membuat NU semakin leluasa bergerak dalam menjalankan program-program sosial kemasyarakatannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun termasuk ke dalam organisasi yang berbasis nilai-nilai agama islam, NU juga dikenal sebagai organisasi kemasyarakatan yang menjunjung nilai nasionalisme, moderat, pluralisme, dan toleransi yang tinggi. Nilai-nilai tersebut dapat diimplementasikan oleh Warga Nahdliyin dalam kehidupan sehari-hari, meskipun terdapat pro dan kontra terhadap beberapa praktik-praktiknya. Adanya nilai-nilai tersebut tentu sejalan dengan prinsip-prinsip <em>civil society<\/em>.&nbsp; Namun dalam praktiknya, terkadang terjadi hal-hal yang justru bertentangan dengan nilai yang diusung oleh organisasi tersebut. Contohnya, NU selalu mengirimkan bantuan keamanan saat pengamanan hari raya Natal dan hari raya-hari raya umat agama lain, melalui salah satu organisasi yang berada di bawah naungan NU yang bernama Banser (Barisan Ansor Serbaguna). Namun di sisi lain, NU melalui Banser juga sering membubarkan pengajian-pengajian saudaranya sendiri yang beragama Islam (Salafi Wahabi) seperti contoh yang terjadi pada tanggal 22 Februari 2024 di Surabaya (Pembubaran Pengajian Ustadz Syafiq Riza Basalamah). Alasan mendasar dari hal tersebut adalah karena kelompok yang sedang mengadakan pengajian memiliki ideologi yang berbeda bahkan bertentangan dengan NU, alasan bahwa ideologi kelompok tersebut juga berbahaya bagi keutuhan dan kesatuan NKRI juga menjadi dasar atas hal tersebut. Namun, ketika berbicara tentang <em>civil society<\/em>, hal tersebut merupakan sebuah anomali dan juga termasuk ke dalam sebuah diskriminasi terhadap nilai toleransi dan juga nilai pluralisme. Pasalnya, ketika NU berhubungan dengan umat agama lain, mereka justru dapat mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dengan baik, terlepas dari kontroversi-kontroversi yang ada terkait dengan akidah beragama. Namun, justru dengan saudaranya sesama muslim, mereka justru bersikap sebaliknya, terlepas dari perbedaan pandangan maupun ideologi yang dianut oleh dua kelompok tersebut. Tentunya hal tersebut merupakan tanda dari dekadensi NU sebagai bagian dari <em>civil society<\/em> dalam upaya demokratisasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dekadensi terhadap NU adalah nyata adanya, nilai-nilai yang berhubungan dengan toleransi, pluralisme, dan kemoderatan dalam beragama dan berbangsa yang selalu mereka bangga-banggakan justru tercoreng dengan adanya peristiwa tersebut. padahal, NU sebagai salah satu bagian dari <em>civil society<\/em> seharusnya lebih memiliki pikiran dan tindakan yang lebih <em>open minded<\/em>. Karena ketika berbicara tentang <em>civil society<\/em>, tentunya juga akan berkaitan dengan demokrasi dan demokratisasi. Dan di dalam demokrasi terdapat nilai-nilai yang menjunjung kebebasan dalam berkumpul, berserikat, dan berpendapat. Meskipun NU berbeda pandangan dan ideologi dengan kelompok Salafi Wahabi, seharusnya sebagai bagian dari <em>civil society<\/em> mereka juga memiliki kesadaran untuk tidak melakukan tindakan pembubaran atas pengajian kelompok Salafi Wahabi tersebut. Karena pada hakikatnya dalam sebuah <em>civil society<\/em> yang sejalan dengan demokrasi dan demokratisasi diperlukan adanya sikap untuk saling menghargai dan menghormati atas perbedaan yang ada, karena setiap individu maupun kelompok berhak mendapatkan kebebasan dalam berpikir, beraktivitas, serta berpendapat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adanya dekadensi pada tubuh NU tidak dapat dibiarkan begitu saja, perlu adanya penanganan lebih lanjut untuk mengatasi permasalahan tersebut, mulai dari pembenahan dan pencerdasan sumber daya manusia terhadap nilai-nilai yang menjunjung tinggi rasa toleransi, pluralisme, menerima perbedaan, hingga membenahi kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat terhadap kelompok lain dengan cara bertabayun serta memperbaiki hubungan dengan kelompok-kelompok tersebut untuk terciptanya lingkungan <em>civil society<\/em> yang sehat.<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"3\" class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>KESIMPULAN<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berdasarkan permasalahan terkait dengan dekadensi NU sebagai bagian dari <em>civil society<\/em> dalam berdemokrasi, dibutuhkan upaya-upaya seperti pembenahan dan pencerdasan sumber daya manusia terhadap nilai-nilai yang menjunjung tinggi rasa toleransi, pluralisme, menerima perbedaan, hingga membenahi kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat terhadap kelompok lain dengan cara bertabayun serta memperbaiki hubungan dengan kelompok-kelompok tersebut untuk terciptanya lingkungan <em>civil society<\/em> yang sehat. Sehingga dengan adanya perbaikan tersebut, diharapkan mampu mengembalikan NU untuk menjadi bagian dari <em>civil society<\/em> yang dapat melakukan demokratisasi dengan baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ali Rahim, 2013, \u201c Nahdlatul Ulama\u201d, Jurnal Al Hikmah, Vol. 14, No. 2.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hanaa Septiana, (2024, Februari&nbsp; 23), Pengajian Syafiq Riza Basalamah Dibubarkan Banser, Begini Kronologinya versi Panitia Penyelenggara, tempo.co. https:\/\/nasional.tempo.co\/read\/1837126\/pengajian-syafiq-riza-basalamah-dibubarkan-banser-begini-kronologinya-versi-panitia-penyelenggara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hendro Prasetyo., dkk., 2002, Islam dan <em>civil society: <\/em>Pandangan Muslim Indonesia,<em> <\/em>Jakarta: PT Gramedia dan PPIM UIN Jakarta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Patrick Winn, 2019, \u201c<em>The world\u2019s largest Islamic group wants Muslims to stop saying \u2018infidel\u2019,<\/em> PRI.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Wan Asrida., dkk., 2021, \u201c<em>Civil Society, <\/em>Demokrasi dan Demokratisasi\u201d, Nahkoda: Jurnal Ilmu Pemerintahan, Vol. 20, No. 02.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Latif Prayogo1,Rida Nanda Kirana2 Universitas Brawijaya1 Universitas Negeri Malang2 Email : latif_prayogo@student.ub.ac.id&nbsp; Abstrak Demokrasi tidak dapat berjalan tanpa adanya kekuatan pendukung serta kekuatan penyeimbang sebagai kontrol terhadap praktik pemerintahan. Adanya partai politik pendukung atau oposisi dalam pemerintahan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi Masyarakat, dan kekuatan masyarakat yang terstruktur yang memiliki pengaruh dalam pengambilan serta kontrol [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":342,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-341","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.6 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>DEKADENSI NU SEBAGAI ORGANISASI CIVIL SOCIETY DALAM BERDEMOKRASI - Berita IPPNU Jatim<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"NU merupakan contoh konkrit dari kekuatan masyarakat dalam lingkup civil society,\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"DEKADENSI NU SEBAGAI ORGANISASI CIVIL SOCIETY DALAM BERDEMOKRASI - Berita IPPNU Jatim\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"NU merupakan contoh konkrit dari kekuatan masyarakat dalam lingkup civil society,\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita IPPNU Jatim\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-09-08T05:30:44+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-06-16T05:13:50+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/blue-modern-website-programming-online-tutorials-youtube-thumbnail.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"720\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"PW IPPNU Jawa Timur\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"PW IPPNU Jawa Timur\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"10 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/\"},\"author\":{\"name\":\"PW IPPNU Jawa Timur\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/person\/1e67ec8fbd3cae164dc5686696e7864a\"},\"headline\":\"DEKADENSI NU SEBAGAI ORGANISASI CIVIL SOCIETY DALAM BERDEMOKRASI\",\"datePublished\":\"2024-09-08T05:30:44+00:00\",\"dateModified\":\"2025-06-16T05:13:50+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/\"},\"wordCount\":1772,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/blue-modern-website-programming-online-tutorials-youtube-thumbnail.png\",\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/\",\"url\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/\",\"name\":\"DEKADENSI NU SEBAGAI ORGANISASI CIVIL SOCIETY DALAM BERDEMOKRASI - Berita IPPNU Jatim\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/blue-modern-website-programming-online-tutorials-youtube-thumbnail.png\",\"datePublished\":\"2024-09-08T05:30:44+00:00\",\"dateModified\":\"2025-06-16T05:13:50+00:00\",\"description\":\"NU merupakan contoh konkrit dari kekuatan masyarakat dalam lingkup civil society,\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/blue-modern-website-programming-online-tutorials-youtube-thumbnail.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/blue-modern-website-programming-online-tutorials-youtube-thumbnail.png\",\"width\":1280,\"height\":720},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"DEKADENSI NU SEBAGAI ORGANISASI CIVIL SOCIETY DALAM BERDEMOKRASI\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/\",\"name\":\"Berita IPPNU Jatim\",\"description\":\"Berita Informasi dan Artikel Tentang PW IPPNU Jawa Timur\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#organization\"},\"alternateName\":\"Berita IPPNU Jatim\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#organization\",\"name\":\"Berita IPPNU Jatim\",\"alternateName\":\"Berita IPPNU Jatim\",\"url\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/logo-2.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/logo-2.png\",\"width\":276,\"height\":70,\"caption\":\"Berita IPPNU Jatim\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/person\/1e67ec8fbd3cae164dc5686696e7864a\",\"name\":\"PW IPPNU Jawa Timur\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/cropped-favicon.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/cropped-favicon.png\",\"caption\":\"PW IPPNU Jawa Timur\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"DEKADENSI NU SEBAGAI ORGANISASI CIVIL SOCIETY DALAM BERDEMOKRASI - Berita IPPNU Jatim","description":"NU merupakan contoh konkrit dari kekuatan masyarakat dalam lingkup civil society,","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"DEKADENSI NU SEBAGAI ORGANISASI CIVIL SOCIETY DALAM BERDEMOKRASI - Berita IPPNU Jatim","og_description":"NU merupakan contoh konkrit dari kekuatan masyarakat dalam lingkup civil society,","og_url":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/","og_site_name":"Berita IPPNU Jatim","article_published_time":"2024-09-08T05:30:44+00:00","article_modified_time":"2025-06-16T05:13:50+00:00","og_image":[{"width":1280,"height":720,"url":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/blue-modern-website-programming-online-tutorials-youtube-thumbnail.png","type":"image\/png"}],"author":"PW IPPNU Jawa Timur","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"PW IPPNU Jawa Timur","Estimasi waktu membaca":"10 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/"},"author":{"name":"PW IPPNU Jawa Timur","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/person\/1e67ec8fbd3cae164dc5686696e7864a"},"headline":"DEKADENSI NU SEBAGAI ORGANISASI CIVIL SOCIETY DALAM BERDEMOKRASI","datePublished":"2024-09-08T05:30:44+00:00","dateModified":"2025-06-16T05:13:50+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/"},"wordCount":1772,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/blue-modern-website-programming-online-tutorials-youtube-thumbnail.png","articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/","url":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/","name":"DEKADENSI NU SEBAGAI ORGANISASI CIVIL SOCIETY DALAM BERDEMOKRASI - Berita IPPNU Jatim","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/blue-modern-website-programming-online-tutorials-youtube-thumbnail.png","datePublished":"2024-09-08T05:30:44+00:00","dateModified":"2025-06-16T05:13:50+00:00","description":"NU merupakan contoh konkrit dari kekuatan masyarakat dalam lingkup civil society,","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/#primaryimage","url":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/blue-modern-website-programming-online-tutorials-youtube-thumbnail.png","contentUrl":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/blue-modern-website-programming-online-tutorials-youtube-thumbnail.png","width":1280,"height":720},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/dekadensi-nu-sebagai-organisasi-civil-society-dalam-berdemokrasi\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"DEKADENSI NU SEBAGAI ORGANISASI CIVIL SOCIETY DALAM BERDEMOKRASI"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#website","url":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/","name":"Berita IPPNU Jatim","description":"Berita Informasi dan Artikel Tentang PW IPPNU Jawa Timur","publisher":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#organization"},"alternateName":"Berita IPPNU Jatim","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#organization","name":"Berita IPPNU Jatim","alternateName":"Berita IPPNU Jatim","url":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/logo-2.png","contentUrl":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/logo-2.png","width":276,"height":70,"caption":"Berita IPPNU Jatim"},"image":{"@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/person\/1e67ec8fbd3cae164dc5686696e7864a","name":"PW IPPNU Jawa Timur","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/cropped-favicon.png","contentUrl":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/cropped-favicon.png","caption":"PW IPPNU Jawa Timur"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/341","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=341"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/341\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":343,"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/341\/revisions\/343"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media\/342"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=341"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=341"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ippnujatim.or.id\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=341"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}